Kopi Tapia Khas Pali

KBRN, Takengon: Sejak 1930-an, warung kopi banyak ditemukan di Penukal, Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir), Sumatera Selatan. Tapi di Penukal tidak ada perkebunan kopi.

Dilansir dari Mongabay Indonesia, di Penukal kopi hanya ditanam di jongot, bersama tanaman buahan hutan dan kayu. Tanaman kopi diberlakukan sebagai tanaman hutan. 

Kopi yang disajikan yaitu tapia, kopi tubruk khas Penukal.

Jongot adalah kebun adat atau agroforestry yang dikembangkan masyarakat Penukal. Fungsinya, sebagai sumber pangan pendukung dan papan.

Warung kopi memiliki peranan penting dalam kehidupan sosial masyarakat Tempirai Raya. 

Warung kopi menjadi tempat berkumpul untuk berdiskusi, bertukar informasi, dan menjalin silaturahmi antarwarga, serta membantu melatih kemampuan bernegosiasi dalam berdagang 

Masyarakat Penukal memiliki cara unik dalam menikmati kopi, yaitu dengan menyajikan kopi tapia, sejenis kopi tubruk khas Penukal.

Kopi ini digiling kasar, dan saat diseduh dengan air mendidih, serbuk kopinya akan mengapung di permukaan cangkir. Sebelum diminum, kopi dibiarkan sejenak, lalu serbuk yang mengapung diambil.

Hasil akhirnya mirip dengan penyeduhan menggunakan metode French Press, yang pertama kali diperkenalkan di Prancis pada tahun 1852.

Messkipun demikian, warung kopi di Penukal bukan hanya tempat untuk menikmati kopi, tetapi juga menjadi pusat interaksi sosial yang penting bagi masyarakat.

Di sinilah warga berkumpul untuk berbagi informasi, berdiskusi, hingga membuat keputusan penting yang sudah menjadi tradisi masyarakat Suku Musi di Penukal. 

Hal ini tercermin dalam tata letak permukiman di wilayah ini, rumah-rumah panggung kayu dibangun mengelilingi satu titik tengah, yang biasanya berupa balai pertemuan atau rumah ibadah.

Budaya musyawarah inilah yang membuat warung kopi cepat diterima oleh masyarakat. Di tempat ini, setiap orang bisa menyampaikan pendapat tanpa memandang status sosial atau usia.



Posting Komentar

0 Komentar